“Barangsiapa diberi banyak, banyak pula yang dituntut darinya.” (22 Oktober 2014)

Screen Shot 2014-05-29 at 8.57.28 AM
Lukas (12:39-48)

Pada suatu ketika berkatalah Yesus kepada murid-murid-Nya, “Camkanlah ini baik-baik! Jika tuan rumah tahu pukul berapa pencuri akan datang, ia tidak akan membiarkan rumahnya dibongkar. Hendaklah kalian juga siap sedia, karena Anak Manusia akan datang pada saat yang tak kalian sangka-sangka.” Petrus bertanya, “Tuhan, kami sajakah yang Kaumaksud dengan perumpamaan ini ataukah juga semua orang?” Tuhan menjawab, “Siapakah pengurus rumah yang setia dan bijaksana yang akan diangkat oleh tuannya menjadi kepala atas semua hambanya untuk membagikan makanan kepada mereka pada waktunya? Berbahagialah hamba, yang didapati tuannya sedang melakukan tugasnya, ketika tuan itu datang. Aku berkata kepadamu: Sungguh, tuan itu akan mengangkat dia menjadi pengawas segala miliknya. Tetapi jika hamba itu jahat dan berkata dan berkata dalam hatinya, ‘Tuanku tidak datang-datang.’ Lalu ia mulai memukul hamba-hamba lain, pria maupun wanita, dan makan minum serta mabuk, maka tuannya akan datang pada hari yang tidak disangka-sangkanya dan pada saat yang tidak diketahuinya, dan tuan itu akan membunuh dia serta membuat dia senasib dengan orang-orang yang tidak setia. Hamba yang tahu akan kehendak tuannya, tetapi tidak mengadakan persiapan atau tidak melakukan apa yang dikehendaki tuannya, ia akan menerima banyak pukulan. Tetapi barangsiapa tidak tahu akan kehendak tuannya dan melakukan apa yang harus mendatangkan pukulan, ia akan menerima sedikit pukulan. Barangsiapa diberi banyak, banyak pula yang dituntut daripadanya. Dan barangsiapa dipercaya banyak, lebih banyak lagi yang dituntut daripadanya.”
Demikianlah Injil Tuhan
U. Terpujilah Kristus.
Renungan
Injil hari ini mengajarkan kepada kita bagaimana kesetiaan terhadap seorang tuan dapat dibangun. Yesus lewat perumpamaan-Nya mengajak kita untuk setia kepada tuan melalui karya yang dipercayakan kepada kita. Memandang setiap orang sebagai Kristus sendiri yang meminta adalah kunci yang tepat untuk melaksanakan karya – karya yang membangun diri. Terkadang kita merasa jengkel terhadap atasan dalam dunia pekerjaan. Apabila kita mau memandangnya sebagai Kristus sendiri yang meminta, tentu saja apa yang kita lakukan atas perintah atasan sebenarnya tertuju kepada Kristus sendiri dan menjadi sebuah persembahan yang hidup. Bukankah kita hidup demi Kristus? Melalui apa kita hidup untuk Kristus? Lewat karya yang dipercayakan kepada kita. Di mata Tuhan tidak ada pekerjaan rendahan atau pekerjaan tingkat atas. Karya yang kita lakukan dengan kesungguhan hati sungguh menjadi persembahan bagi Tuhan. Ibu Teresa dari Kalkuta pernah mengungkapkan hal yang sama “melakukan hal kecil dengan cinta yang besar”; sekarang kita sadari bersama bahwa pengabdian kepada Tuhan membutuhkan relasi dan perjumpaan dengan sesama. Kita terlebih dahulu menerima mereka sebagai Kristus sendiri yang meminta. “…setiap orang yang kepadanya banyak diberi, dari padanya akan banyak dituntut, dan kepada siapa yang banyak dipercayakan, dari padanya akan lebih banyak lagi dituntut.” Tentu saja, semua yang kita miliki adalah milik Tuhan, dan dikembalikan kepada Tuhan. Melalui apa? Mengembalikannya melalui sesama juga. Contoh kecil, orang yang memiliki harta berkecukupan harus menyadari bahwa miliknya adalah milik Allah juga. Ada suatu tuntutan kasih dari Allah agar yang berkecukupan berbagi kepada mereka yang berhak menerima. Kedudukan sebenarnya adalah suatu akses yang digunakan Allah agar kita mau berbagi, melaksanakan karya kasih dan peduli terhadap sesama. Seorang atasan harus sadar justru posisinya bukanlah sekedar memimpin, tetapi juga melayani dan memberi lebih. Tuntutan kasih itu datang bukan karena Allah benci, tetapi karena Allah memakai kita semuanya, apapun profesinya untuk saling membangun dunia sehingga Kerajaan Allah benar – benar dirasakan di bumi. Akhir kata, kutipan indah ini dapat memotivasi kita : “Aku tidak dapat melakukan hal yang dapat kamu lakukan, kamu tidak dapat melakukan apa yang aku lakukan. Maka, bersama kita dapat melakukan hal yang besar” (Ibu Teresa dari Kalkuta). Kita diciptakan untuk saling memberi diri, bukan sebaliknya, menolak dan menjauh dari realitas kehidupan.
Doa
Allah Bapa, pencipta alam semesta dan segala yang hidup, Engkau membangun kerajaan-Mu di tengah-tengah kami. Penuhilah kami dengan semangat kegiatan untuk membangun dunia baru, yang Kaupercayakan kepada kami. Semoga kami siap sedia bila tiba saatnya Engkau menyempurnakan segalanya dengan cinta kasih-Mu. Dengan pengantaraan Yesus Kristus, Putra-Mu, Tuhan kami, yang bersama Dikau, dalam persatuan Roh Kudus, hidup dan berkuasa kini dan sepanjang masa. Amin.
Sumber : renunganpagi.blogspot.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.