“Bukankah wanita keturunan Abraham ini harus dilepaskan dari ikatannya sekalipun pada hari Sabat?”(27 Oktober 2014)

Screen Shot 2014-06-18 at 8.20.43 AM
Lukas (13:10-17)
Pada suatu hari Sabat Yesus mengajar dalam salah satu rumah ibadat. Di situ ada seorang wanita yang telah delapan belas tahun dirasuk roh. Ia sakit sampai bungkuk punggungnya dan tidak dapat berdiri lagi dengan tegak. Ketika Yesus melihat wanita itu dipanggil-Nyalah dia. Lalu Yesus berkata, “Hai Ibu, penyakitmu telah sembuh.” Kemudian wanita itu ditumpangi-Nya tangan, dan seketika itu juga ia berdiri tegak dan memuliakan Allah. Tetapi kepala rumah ibadat itu gusar karena Yesus menyembuhkan orang pada hari Sabat. Lalu ia berkata kepada orang banyak, “Ada enam hari untuk bekerja. Karena itu datanglah pada salah satu dari hari itu untuk disembuhkan dan jangan pada hari Sabat.” Tetapi Tuhan menjawab dia, kata-Nya, “Hai orang-orang munafik, bukankah kalian semua melepaskan lembu dan keledaimu pada hari Sabat dan membawanya ke tempat minum? Nah, wanita ini sudah delapan belas tahun diikat oleh Iblis. Bukankah dia harus dilepaskan dari ikatannya itu karena dia keturunan Abraham?” Waktu Yesus berbicara demikian, semua lawan-Nya merasa malu, sedangkan orang banyak bersukacita karena segala perkara mulia yang telah dilakukan-Nya.
Demikianlah Injil Tuhan
U. Terpujilah Kristus.
Renungan
Dalam situasi darurat, orang harus berani mendahulukan belas kasih daripada aturan dan hukum. Sebab tidak jarang kebenaran dan kebaikan itu melampaui segala aturan dan hukum yang berlaku. Kita harus menomorsatukan keselamatan jiwa daripada tata aturan yang ada. Namun, kita harus mengakui, bahwa untuk melaksanakan semua ini dibutuhkan sebuah keyakinan dan keberanian yang besar.
Itulah yang Yesus lakukan ketika mengajar di sinagoga. Pada saat Dia mengajar, ada seorang perempuan yang telah delapan belas tahun dirasuk roh sehingga ia sakit sampai bungkuk punggungnya dan tidak dapat berdiri lagi dengan tegak (Luk 13:10-17). Sungguh, suatu penderitaan yang luar biasa. Didorong oleh belas kasihan yang besar, Yesus menyembuhkan sakit perempuan tersebut. Melihat peristiwa itu banyak orang bersukacita. Namun, kepala rumah ibadat mencela tindakan Yesus karena Dia melakukan penyembuhan pada hari Sabat. Mendapat reaksi yang demikian, Yesus tidak gentar. Dia sungguh yakin bahwa apa yang dilakukan-Nya selaras dengan kehendak Bapa-Nya yang Mahabelaskasih kepada semua orang.
Dari sikap dan tindakan Yesus ini, kita boleh yakin bahwa belas kasihan lebih berharga daripada semua aturan yang ada di sekitar kita. Benar, bahwa hukum dan aturan harus tetap ditegakkan, tapi tidak boleh mengikat kita untuk mewujudkan belas kasih. Tuhan menyelamatkan kita bukan hanya dengan aturan dan hukum, melainkan pertama-tamak arena belas kasihan-Nya. Karena sesungguhnya tak seorang pun pantas menerima keselamatan dari dirinya sendiri. Hanya berkat belas kasihan Tuhan, kita semua bisa memperoleh keselamatan.
Dengan demikian, belas kasih adalah jalan keselamatan. Sebagai orang beriman, kita harus menghormati hukum yang berlaku, tetapi kita hendaknya lebih menghargai belas kasihan. Sikap dan tindakan ini hendaknya ditanamkan mulai dari lingkungan keluarga. Di sana nilai-nilai belas kasih ditaburkan dan dipelihara, sebab belas kasih menjadi kunci bagi orang Katolik untuk menjaga keutuhan keluarganya. Keluarga Katolik yang baik adalah keluarga yang mengedepankan belas kasihan di atas segala aturan.
Doa
Bapa yang mahapengasih, sebagaimana Engkau mengasihi dan mengampuni aku, buatlah aku juga mampu mengasihi dan mengampuni sesama maupun diriku sendiri hari ini, sebagai persembahan dan pujian bagi-Mu. Dengan pengantaraan Yesus Kristus, Putra-Mu, yang bersama Dikau, dalam persatuan Roh Kudus, hidup dan berkuasa kini dan sepanjang masa. Amin.

Sumber : renunganpagi.blogspot.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.