“Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku.”(19 Februari 2015)

Matius (9:14-15)

“Mempelai itu akan diambil dari mereka dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa.”
Sekali peristiwa datanglah murid-murid Yohanes kepada Yesus, dan berkata, “Mengapa kami dan orang Farisi berpuasa, tetapi murid-murid-Mu tidak?” Jawab Yesus kepada mereka, “Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berdukacita selama mempelai itu bersama mereka? Tetapi waktunya akan datang mempelai itu diambil dari mereka, dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa.”
Berbahagialah orang yang mendengarkan sabda Tuhan dan tekun melaksanakannya
U. Sabda-Mu adalah jalan, kebenaran dan hidup kami.
Renungan
Salah satu kecenderungan manusiawi kita adalah keinginan untuk selalu mencari enak dan kepenak, kemudian ngenak-enak. Setiap kali ada kesulitan sedikit, kalau bisa ya dihindari. Hal ini merupakan kelemahan yang membuat kita seringkali tidak mudah untuk menyangkal diri dan memikul salib dengan ikhlas, apalagi dengan sukacita. Ilustrasi ini mungkin berguna. Para petani yang mempunyai sapi atau kambing di kandang, setiap hari pasti selalu mencarikan rumput untuk mereka. Meskipun badan capek sekali, meskipun hujan deras, meskipun badan sedang tidak enak, mereka akan tetap mencari rumput dan tidak mau membiarkan kambing dan sapinya kelaparan. Paling tidak itu yang terjadi dalam keluarga saya. Saya kira ini merupakan salah satu bentuk penyangkalan diri. Namun, penyangkalan diri semacam ini seringkali tidak kita lakukan untuk Tuhan. Ketika badan capek atau kurang sehat sedikit saja, kita seringkali malas untuk berdoa dan ke Gereja. Kalau hujan, kita juga malas atau aras-arasen untuk pergi ke Gereja atau mengikuti kegiatan lingkungan. Padahal, kalau untuk kambing atau sapinya saja (bisa ditambah dengan pekerjaan dan hal-hal lain), kita rela menyangkal diri dan berjerih payah, seharusnya untuk Tuhan kan lebih atau malah berlipat. Sapi dan kambing itu kan hanya harta duniawi kita, yang memberikan pupuk melalui kotorannya atau makanan melalui dagingnya atau uang kalau kita jual. Lah, Tuhan itu harta dunia dan akhirat kita. Dia memberikan segala-galanya kepada kita.
Doa
Tuhan, berilah kami rahmat-Mu agar kami mampu menyangkal diri, memikul salib kami setiap hari dan mengikuti Engkau. Amin.
Selamat Tahun Baru Imlek.
Semoga semakin banyak berkat yang diterima dan dibagikan.
Sumber : www.doakatolik.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.