logo karangpanas

Gereja St. Athanasius Agung
Paroki Karangpanas

Jl. Dr. Wahidin 108 Semarang

Paroki KarangpanaS

Misa Online

Senin-Sabtu 05.30 WIB
Minggu 08.30 WIB

Puncta

Puncta hari ini
Membaca adalah jiwa

Berita Paroki

Berita paroki Karangpanas terbaru

Warta Paroki

Warta Paroki Terbaru
Klik disini

Video Komsos

Subscribe channel YouTube Komsos Karangpanas

Kolekte

Link donasi dan kolekte
Klik disini

gereja lama

narahubung

(024) 8312595

+62 812-1620-3348

WARTA PAROKI

PUNCTA

Puncta Selasa, 30 November 2021

“Yesus berkata kepada mereka: “Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia.” <Mat 4:18-22> Setiap orang yang dibaptis khususnya, mempunyai tanggungjawab untuk menjadi murid-Nya

Selengkapnya »

“Cinta untuk rumah-Mu menghanguskan Aku.”(08 Maret 2015)

Yohanes (2:13-25)
“Bait Allah yang dimaksudkan Yesus ialah tubuh-Nya sendiri.”
Ketika hari raya Paskah orang Yahudi sudah dekat, Yesus berangkat ke Yerusalem. Dalam Bait Suci didapati-Nya pedagang-pedagang lembu, kambing domba dan merpati, dan penukar-penukar uang duduk di situ. Maka Ysus membuat cambuk dari tali lalu mengusir mereka semua dari Bait Suci dengan semua kambing, domba dan lembu mereka; uang para penukar dihamburkan-Nya ke tanah, dan meja-meja mereka dibalikkan-Nya. Kepada pedagang-pedagang merpati Ia berkata, “Ambillah semuanya ini dari sini, jangan membuat rumah Bapa-Ku menjadi tempat berjualan.” Maka teringatlah murid-murid Yesus bahwa ada tertulis, “Cinta untuk rumah-Mu menghanguskan Aku.” Tetapi orang-orang Yahudi menantang Yesus, katanya, “Tanda apakah dapat Engkau tunjukkan kepada kami, bahwa Engkau berhak bertindak demikian?” Jawab Yesus kepada mereka, “Rombaklah Bait Allah ini, dan dalam tiga hari Aku akan mendirikannya kembali.” Lalu kata orang Yahudi kepada-Nya, “Empat puluh enam tahun orang mendirikan Bait Allah ini, dan Engkau dapat membangunnya dalam tiga hari?” Tetapi yang dimaksudkan Yesus dengan Bait Allah ialah tubuh-Nya sendiri. Sesudah Yesus bangkit dari antara orang mati, barulah teringat oleh murid-murid-Nya bahwa hal itu telah dikatakan Yesus. Maka percayalah mereka akan Kitab Suci dan akan perkataan yang telah diucapkan Yesus. Sementara Yesus tinggal di Yerusalem selama Hari Raya Paskah, banyak orang percaya dalam nama-Nya, karena mereka telah melihat tanda-tanda yang diadakan-Nya. Tetapi Yesus sendiri tidak mempercayakan diri-Nya kepada mereka, karena Yesus mengenal mereka semua. Dan tidak perlu seorang pun memberi kesaksian kepada-Nya tentang manusia, sebab Ia tahu apa yang ada di dalam hati manusia.
Berbahagialah orang yang mendengarkan sabda Tuhan dan tekun melaksanakannya
U. Sabda-Mu adalah jalan, kebenaran dan hidup kami.
Renungan
Tentu kita mudah memahami kemarahan Yesus terhadap para pedagang dan penukar uang di Bait Allah. Mereka melakukan bukan di tempat yang sebenarnya sehingga tidak hanya mengganggu orang yang ingin beribadah tetapi juga mencemari kesucian Bait Allah. Hal yang mirip, sekarang juga sering terjadi di tempat-tempat ibadah kita, misalnya bunyi hp pada saat perayaan Ekaristi, sms-an pada saat ibadat atau ekaristi, berpakaian secara tidak pantas, ngobrol atau ribut sehingga mengganggu kekhusukan, bahkan bergosip ria di gereja, dll. Mungkin ada yang beralasan membuka hp saat misa untuk mengikuti bacaan dari alkitab yang telah diinstal di dalamnya. Emmmm, menurut saya tidak perlu. Sebaiknya kita justru memperhatikan dan mendengarkan sabda Tuhan yang dibacakan. Atau sangat lebih baik, kita membaca sebelumnya sehingga saat Misa bisa mendengarkan dengan lebih baik. Oleh karena itu, tindakan Yesus ini kiranya juga menyadarkan kita semua. Kita diundang untuk sungguh menciptakan dan memelihara kekudusan tempat ibadat agar setiap orang yang datang sungguh-sungguh dapat mengalami perjumpaan dengan Tuhan, memuji dan memuliakan nama-Nya serta mengalami kasih-Nya untuk kemudian disalurkan kepada sesama.
Doa
Tuhan, berilah kami rahmat-Mu agar kami mampu berlaku dan bersikap pantas di tempat kudus-Mu. Amin.
Sumber : www.doakatolik.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.