logo karangpanas

Gereja St. Athanasius Agung
Paroki Karangpanas

Jl. Dr. Wahidin 108 Semarang

Paroki KarangpanaS

Misa Online

Senin-Sabtu 05.30 WIB
Minggu 08.30 WIB

Puncta

Puncta hari ini
Membaca adalah jiwa

Berita Paroki

Berita paroki Karangpanas terbaru

Warta Paroki

Warta Paroki Terbaru
Klik disini

Video Komsos

Subscribe channel YouTube Komsos Karangpanas

Kolekte

Link donasi dan kolekte
Klik disini

gereja lama

narahubung

(024) 8312595

+62 812-1620-3348

WARTA PAROKI

WARTA PAROKI 9 Januari 2022

WARTA PAROKI 08-09 Januari 2022     Januari 2022 C/II Ujud Gereja Universal: Persaudaraan Sejati. Kita berdoa untuk mereka yang menderita karena perundungan dan diskriminasi

Selengkapnya »

PUNCTA

Puncta Senin, 24 Januari 2022

“Tetapi apabila seorang menghujat Roh Kudus, ia tidak mendapat ampun selama-lamanya, melainkan bersalah karena berbuat dosa kekal.” <Mrk 3:22-30> Dosa melawan Roh Kudus berarti melawan

Selengkapnya »

Yesus, Sang Pengampun

Senin, 23 Maret 2015
Pekan Prapaskah V
Tambahan Daniel 13:1-9,15-17,19-30,33-62; Mzm 23:1-6; Yoh 8:1-11

…”Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang.” …

BACAAN  pertama hari hari, dari Kitab Tambahan Daniel (terdapat di Kitab Deuterokanonika), berkisah tentang Susana. Susana adalah perempuan yang mengasihi Allah dan taat. Celakanya, ia difitnah dengan tuduhan berzinah oleh orang-orang yang mau memerkosanya dan dia melawan mereka. Mereka lalu bersaksi palsu karena sakit hati.

Dalam situasi ini, Susana tak punya harapan untuk membela diri dan membersihkan reputasinya selain mengandalkan Allah. Ia berdoa kepada Allah. Allah pun menunjukkan belas kasih-Nya melalui Daniel yang membuktikan bahwa Susana benar.

Dalam Injil, Yesus juga menghadapi tuduhan palsu dan jebakan. Kaum Farisi hendak mendiskreditkan wibawa-Nya dengan membawa perempuan yang tertangkap basah berbuat zinah. Mereka menjadikan perempuan itu umpan untuk membungkam dan menjerat Yesus.

Menurut hukum Musa, perempuan itu harus dirajam batu sampai mati. Bagaimana dengan Yesus? Ini jebakan. Bila Yesus membiarkan perempuan itu dilempari batu berarti Ia tidak konsekuen dengan ajaran kasih-Nya dan persahabatan kasih-Nya dengan para pendosa. Bila melarang, Yesus akan dituduh melawan hukum Taurat. Reputasi-Nya hancur.

Namun Yesus bertindak di luar dugaan. Kaum Farisi justru terjebak oleh pernyataan Yesus: Yang merasa tak berdosa silahkan melempar batu pertama! Dan tak seorang pun berani sebab mereka pun akan mati dilempari batu oleh yang lain karena menyatakan diri tak berdosa.

Kaum Farisi berhasrat menjerat, menyerang dan menghukum. Yesus berhasrat membebaskan, memahami dan mengampuni. Hadir-Nya adalah kasih, pemulihan dan pengampunan.

Dalam Adorasi Ekaristi Abadi, kita menyembah Yesua Kristus yang belas kasih-Nya memampukan kita untuk kembali kepada Allah dan bertobat dengan penuh sesal dan syukur atas kasih pengampunan-Nya. Ia juga mengampuni dan memulihkan hidup kita secara baru.

Tuhan Yesus Kristus, seringkali kami sulit datang pada-Mu. Dalam ketidaktahuan kami, kami berpikir salah tentang Dikau bahwa Dikau menghukum dosa kami. Ternyata Dikau selalu berbelas kasih dan pengampun. Dikau mengasihi kami dan mengampuni kami selalu dan selamanya. Amin.

Sumber : www.sesawi.net

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.