Barangsiapa yang memakan Aku, akan hidup oleh Aku. (24 April 2015)

Yohanes (6:52-59)
“Daging-Ku adalah benar-benar makanan, dan Darah-Ku adalah benar-benar minuman.”    
Di rumah ibadat di Kapernaum orang-orang Yahudi bertengkar antar mereka sendiri dan berkata, “Bagaimana Yesus ini dapat memberikan daging-Nya kepada kita untuk dimakan?” Maka kata Yesus kepada mereka, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jikalau kamu tidak makan Daging Anak Manusia dan minum Darah-Nya, kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu, barangsiapa makan Daging-Ku dan minum Darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal, dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman. Sebab Daging-Ku adalah benar-benar makanan, dan Darah-Ku adalah benar-benar minuman. Barangsiapa makan Daging-Ku dan minum Darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia. Sama seperti Bapa yang hidup mengutus Aku dan Aku hidup oleh Bapa, demikian juga barangsiapa memakan Aku, akan hidup oleh Aku. Akulah roti yang telah turun dari surga, bukan roti seperti yang dimakan nenek moyangmu dan mereka telah mati. Barangsiapa makan roti ini, ia akan hidup selama-lamanya.” Semuanya ini dikatakan Yesus di Kapernaum ketika Ia mengajar di rumah ibadat.
Demikianlah Injil Tuhan
U. Terpujilah Kristus.
Renungan
Kisah Para Rasul pada bacaan hari ini menceritakan peristiwa yang biasa disebut pertobatan Saulus. Mungkin sebutan yang lebih tepat ialah perjumpaan Paulus dengan Tuhan mulia yang membarui kehidupan. Yang istimewa adalah bahwa kisah itu sampai diceritakan sampai tiga kali dalam Kis. 9, 22, dan 26. Kalau kita perhatikan ketiga kisah mengenai peristiwa yang sama itu ternyata berbeda-beda isinya. Masing-masing kisah terdiri atas dua bagian yang mengisahkan keadaan Paulus sebelum dan sesudah perjumpaan itu (Kis. 9:1-2.3-19; Kis. 22:3-5.6-16; dan Kis. 26:4-11.12-13). Perubahan itu terjadi tiba-tiba, hal yang tidak biasa dalam hidup manusia. Dengan cara ini penulis Kisah Para Rasul ingin mengatakan bahwa peristiwa itu bukan peristiwa manusiawi belaka, melainkan peristiwa ilahi.
Pesan ketiga kisah mengenai peristiwa yang sama itu rupanya juga berbeda-beda. Kisah yang pertama berakhir pada pengalaman penyembuhan (9:18); kisah yang kedua berpusat pada pengalaman pewahyuan (22:14); sedangkan pesan pokok kisah yang ketiga adalah perutusan (26:16). Kalau ketiga pesan ini dirangkai, dapatlah kita melihat dinamika ini: Paulus disembuhkan-dalam arti rohani, dibuka mata hatinya-agar ia dapat menerima pewahyuan diri Allah melalui Tuhan yang menampakkan diri. Pewahyuan itulah yang selanjutnya ia wartakan dalam seluruh hidupnya.
Sementara itu, kisah-kisah panjang seperti itu tidaklah kita temukan dalam surat-surat Paulus sendiri. Yang menulis Kisah Para Rasul adalah Lukas. Dengan demikian bisa dikatakan bahwa Lukas mengartikan peristiwa perjumpaan itu dan memvisualisasikannya dalam bentuk kisah yang berbeda-beda.
Rasul Paulus sendiri hanya mengungkapkannya secara amat ringkas. Dalam salah satu suratnya ia menulis: Sebab Allah telah berfirman, ‘Dari dalam gelap akan terbit terang!’, Ia juga yang membuat terang-Nya bercahaya di dalam hati kita, supaya kita beroleh terang dari pengetahuan tentang kemuliaan Allah yang tampak pada wajah Kristus (2Kor 4:6). Ada dua hal yang menarik untuk kita renungkan. Pertama, dalam bagian ini Paulus menulis Kitab Kejadian 1:13 yang merupakan kisah penciptaan. Dengan cara itu Paulus mau mengatakan bahwa pengalamannya berjumpa dengan Tuhan adalah pengalaman diciptakan kembali menjadi manusia baru. Kedua, Paulus yang mengungkapkan pengalamannya sendiri, tidak menulis “bercahaya dalam hati saya”, tetapi dalam hati “kita”. Dengan cara ini ia menyatakan bahwa pengalaman yang sama juga dapat menjadi pengalaman kita semua.
Manakah buah-buah atau tanda nyata pengalaman seperti itu? Paulus memberi contoh mengenai dirinya, misalnya dalam Flp 3:4-11; skala nilai yang berubah. Sebelumnya ia menaruh percaya kepada hal-hal yang lahiriah. Sesudahnya ia menulis:…. Apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus.
Ingatlah suatu peristiwa ketika doa-doa Anda atau sakramen yang Anda terima, Anda mengalami perjumpaan pribadi dengan Tuhan yang menciptakan Anda kembali dan mengubah atau membarui hidup Anda. Syukurilah pengalaman itu dan mohonlah agar pengalaman-pengalaman semakin sering Anda rasakan.
Doa
Allah Bapa sumber kehidupan sejati, Engkau telah menyediakan makanan surgawi bagi kami, yaitu Tubuh dan Darah Putra-Mu. Ajarilah kami untuk sungguh-sungguh mengimani kehadiran Putra-Mu dalam Ekaristi, sehingga kami pun dapat menimba daya hidup dari-Nya. Sebab Dialah Tuhan, Pengantara kami yang bersama Dikau dalam persatuan Roh Kudus, hidup dan berkuasa, Allah, sepanjang segala masa. Amin.
Sumber : www.renunganpagi.blogspot.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.