Ia merasa heran atas ketidakpercayaan mereka. Lalu Yesus berjalan keliling dari desa ke desa sambil mengajar. (05 Juli 2015)

Markus (6:1-6)
“Seorang nabi dihormati di mana-mana, kecuali di tempat asalnya sendiri.”
Sekali peristiwa, Yesus tiba kembali di tempat asal-Nya, sedang murid-murid-Nya mengikuti Dia. Pada hari Sabat Yesus mulai mengajar di rumah ibadat, dan jemaat yang besar takjub ketika mendengar Dia. Mereka berkata, “Dari mana diperoleh-Nya semuanya itu? Hikmat apa pulakah yang diberikan kepada-Nya? Dan mujizat-mujizat yang demikian, bagaimana dapat diadakan oleh tangan-Nya? Bukankah Ia ini tukang kayu, anak Maria? Bukankah Ia saudara Yakobus, Yoses dan Simon? Dan bukankah saudara-saudara-Nya yang perempuan ada bersama kita?” Lalu mereka kecewa dan menolak Dia. Maka Yesus berkata kepada mereka, “Seorang nabi dihormati di mana-mana, kecuali di tempat asalnya sendiri, di antara kaum keluarganya dan di rumahnya.” Maka Yesus tidak dapat mengadakan satu mujizat pun di sana, kecuali menyembuhkan beberapa orang sakit dengan meletakkan tangan-Nya atas mereka. Yesus merasa heran atas ketidakpercayaan mereka. Lalu Yesus berjalan keliling dari desa ke desa sambil mengajar.
Demikianlah Injil Tuhan
U. Terpujilah Kristus. Renungan
YESUS DITOLAK
“Hebatnya Kekuatan Pelukan, Bayi Prematur Hidup Lagi”. Itulah judul menarik berita di sebuah media massa Maret lalu. Peristiwa itu terjadi di Australia. Keajaiban benar-benar dirasakan oleh pasangan Kate dan David Ogg saat melahirkan Jamie pada beberapa waktu lalu.

Jamie yang lahir prematur dinyatakan meninggal secara klinis oleh dokter yang menanganinya. Sementara itu, saudara kembarnya Emily, berhasil selamat. Sekitar 20 menit kemudian, dokter menyerahkan pada kedua orang tuanya. Kate bersama dengan suaminya memeluk Jamie dengan cintanya cukup lama untuk kali terakhir. Tidak disangka, Jamie kembali membuka mata dan bernapas. Para dokter dan perawat langsung mengelilingi Jamie dan terheran-heran dengan mukjizat itu. Kisah mereka itu terungkap di media baru-baru ini.

Satu hal patut digarisbawahi bahwa cinta itu menghidupkan. Sementara kebencian itu menghancurkan. Pelukan kehangatan kasih dari orang tua Jamie ternyata mampu mengubah teori dan ilmu kedokteran yang telah memvonisnya mati secara klinis. Jamie kini hidup kembali karena pelukan kasih orang tuanya. Saya pribadi merasa, kita harus percaya akan dahsyatnya kekuatan cinta itu. Baik yang melakukan dan menerima cinta akan merasakannya secara langsung.

Kita sering mendengarkan kalimat penuh semangat membara dari orang-orang yang tengah jatuh cinta, “Bukit kan kudaki. Laut pun kan kuseberangi.” Itu semua dilakukan karena orang ingin bertemu dengan kekasih hatinya. Orang bisa dengan mudah melakukan hal seperti itu, karena cinta. Tetapi andaikan cinta sudah hilang, selokan bahkan satu jengkal pun tidak terlewati. Aneh tapi nyata.

Betapa indah hidup ini bila cinta itu dipraktikkan. Di pastoran kami, seorang rekan imam yang sudah sepuh (lanjut usia) begitu peduli dengan anjing-anjing kecil. Beliau telaten memberi mereka makan. Tak ayal bila hewan yang lucu-lucu itu begitu lengket dengan sang tuan. Berbeda dengan saya yang jarang menyapa apalagi memberi makan, mereka tahu saya berjalan mendekat saja sudah lari.

Hewan saja mengerti dan merasakan energi bahasa cinta, apalagi manusia. Manusia yang mempunyai perasaan dan hati nurani akan bertumbuh lebih sempurna bila cukup cinta. Ketika anak menjadi anak yang ramah, murah senyum, suka menolong dan sopan, karena dia mendapatkan didikan cinta dari orang tuanya. Ketika anak mudah mencela dan membenci sesamanya karena dia dapat merasakan kebencian itu dalam rumahnya. Apa yang dilihat anak itu dilakukannya.

Ada kabar buruk. Yesus di kampung halaman-Nya tidak mendapatkan sambutan kehangatan cinta dari orang-orang yang telah mengenal-Nya. Ia malah diremehkan. “Bukankah Ia hanya anak tukang kayu?” Apalah yang dapat dilakukan oleh anak tukang kayu yang tidak terhormat itu? Bukan tempat dan selayaknya bila Ia berdiri dan berbicara banyak hal pengajaran di hadapan umum. Itu hanya pantas dilakukan oleh seorang guru. Padahal Yesus hanyalah anak tukang kayu. Orang seperti Dia lebih baik di belakang saja sudah lebih dari cukup.

Pikiran dan lontaran yang sungguh menyakitkan di hati. “Sakitnya tuh di sini”. Tidak ada rasa sakit yang lebih perih daripada luka akibat penolakan sesamanya. Yesus tentu mengalami rasa pedih akibat penolakan seperti itu. Andaikan mereka percaya dengan rasa cinta yang besar pada Yesus niscaya akibatnya akan lain sama sekali. Bagaimana pun itu hanya sebuah pengandaian karena yang terjadi adalah penolakan. Suatu penolakan apa pun itu tetap sebagai penolakan.

Anda perlu tahu setiap terjadi penolakan pada manusia tidak hanya sebuah kerugian bahkan tragedi pilu bisa terjadi. Contoh, bayi mungil harus diaborsi karena sebuah penolakan keji dari kedua orang tuanya. Andaikan mereka menerimanya sebagai tanggung jawab cinta, maka pembunuhan sadis seperti itu tidak akan terjadi.

Orang-orang Nazaret tanpa sadar juga telah mematikan kemungkinan-kemungkinan ajaib yang dapat dilakukan oleh Yesus. Injil sendiri mencatat, Ia tidak dapat mengadakan satu mukjizat pun di sana. Oleh karena itu, belajar dari pengalaman berharga ini, mari satu sama lain saling percaya. Kita satu sama lain saling menerima dengan keterbukaan hati yang luas. Sejelek apapun orang itu, di dalamnya selalu terkandung kebaikan dan kebenarannya.

Allah tidak pernah menciptakan manusia sebagai sampah! Sebaliknya, manusia adalah citra-Nya.

Doa
Ya Allah, Engkau telah mengutus Putra-Mu untuk memberi hidup baru bagi kami. Kami mohon, bangkitkanlah iman kami agar memiliki keberanian untuk berbagi hidup dan talenta kami kepada sanak saudara kami yang berkekurangan. Dengan pengantaraan Kristus, Putra-Mu, Tuhan kami, yang bersama dengan Dikau dalam persatuan Roh Kudus, hidup dan berkuasa, Allah, sepanjang segala masa. Amin.

Sumber : www.renunganpagi.blogspot.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.