Aku akan mengangkat atas mereka gembala-gembala yang akan menggembalakan mereka. (19 Juli 2015)

Markus (6:30-34)
“Mereka seperti domba yang tidak mempunyai gembala.”
Sekali peristiwa Yesus mengutus murid-murid-Nya mewartakan Injil. Setelah menunaikan perutusannya, mereka kembali berkumpul dengan Yesus dan memberitahukan kepada-Nya semua yang mereka kerjakan dan ajarkan. Lalu Yesus berkata kepada mereka, “Marilah ke tempat yang sunyi, supaya kita sendirian, dan beristirahatlah sejenak!” Sebab memang begitu banyaknya orang datang dan pergi, sehingga makan pun mereka tidak sempat. Maka pergilah mereka mengasingkan diri dengan perahu ke tempat yang sunyi. Tetapi pada waktu mereka bertolak, banyak orang melihat, dan mereka mengetahui tujuannya. Dengan mengambil jalan darat segeralah datang orang dari semua kota ke tempat itu dan mereka malah mendahului Yesus dan murid-murid-Nya. Ketika mendarat, dan melihat jumlah orang yang begitu banyak, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka seperti domba yang tidak mempunyai gembala. Lalu mulailah Ia mengajarkan banyak hal kepada mereka.
Demikianlah Injil Tuhan
U. Terpujilah Kristus.

Renungan
ISTIRAHAT YANG BENAR
Hidup kerap dipenuhi dengan kerja dan kerja. Bahkan, beberapa orang tidur pun masih seperti bekerja, mengigau, dan bermimpi sehingga bangun tidur tetap merasa capai. Jika demikian, orang biasanya mencari hiburan. Karena itu, tempat hiburan selalu ramai dikunjungi orang. Orang perlu istirahat, terutama setelah bekerja. Benar! Tetapi, orang kerap salah memilih hiburan dan istirahat.

Istirahat atau hiburan yang dipilih justru menambah beban hidup berikutnya. Setelah berbelanja banyak orang justru dikejar-kejar penagih hutang (kartu kredit). Seorang anak menghabiskan waktunya sampai larut malam untuk “update status” di facebook atau twitter sehingga terlambat berangkat ke sekolah. Seorang anak mengantuk berat di kelas karena menuruti hobinya bermain bola waktu istirahat. Seorang suami kehilangan waktu bersama keluarganya demi mengejar kesehatan dengan olahraga dan tidur sepuasnya waktu hari-hari liburnya. Seorang ibu tidak tega membangunkan anaknya pada hari Minggu untuk pergi ke gereja karena anaknya kelelahan belajar. Istirahat menghilangkan orang dari hal penting dalam hidupnya. Benarkah istirahat yang demikian?

Istirahat yang benar seharusnya mengembalikan fokus dalam hidup seseorang. Injil hari ini menunjukkan bahwa Yesus pun memperhatikan soal istirahat. Dia mengajak para murid-Nya beristirahat meskipun batal karena orang banyak yang memerlukan bantuan mereka. Justru di sinilah mampu ditunjukkan oleh Yesus, apakah yang menjadi perhatian utama dalam hidup Yesus itu. Istirahat tidak membuat Yesus dan para murid-Nya kehilangan perhatian utama hidup mereka, yaitu tindakan kasih terhadap sesama.

Yesus menunjukkan bahwa istirahat yang benar bisa tetap mengembalikan hati yang lelah karena urusan pekerjaan dengan belas kasih terhadap sesama. Hati yang dipenuhi dengan kerja, kekuatiran, kecemasan, perhitungan untung rugi, iri hati, jengkel, marah, dendam, dikembalikan menjadi hati yang mau berkorban, mengampuni, melayani, memberi kesempatan kembali kepada yang bersalah untuk memperbaiki hidupnya, mau memberikan diri kepada yang lain meski disakiti. Dengan istirahat, hati dikuatkan kembali untuk berbagi hidup dengan sesama, tidak hanya kembali memuaskan egoisme diri sendiri dan demi keuntungan bisnis semata.

Istirahat yang benar mengembalikan hati bapa yang marah kepada anaknya menjadi hati yang memeluk anaknya yang telah berbuat salah besar dalam hidupnya; istirahat yang mengembalikan kekuatan seorang isteri yang mau menerima kembali suaminya yang telah sekian lama meninggalkan keluarganya.

Apakah “aku” mau kehilangan kedekatan dengan keluargaku demi mengejar “istirahatku”? Jenis istirahat apa yang biasa aku jalani? Apakah istirahatku membuatku semakin berbela rasa kepada orang lain yang ada di sekitarku? Ataukah hanya untuk mencari kepuasan diri?

Doa
Ya Allah, melalui Yesus Kristus, Putra-Mu, Engkau telah menggembalakan kami, kawanan-Mu. Semoga, kami hidup sebagai kawanan yang selalu bersatu dan tekun mendengarkan Sabda Putra-Mu, serta melaksanakannya dalam hidup kami sehari-hari. Sebab Dialah Tuhan, Pengantara kami, yang bersama Dikau dalam persatuan Roh Kudus, hidup dan berkuasa, Allah, sepanjang segala masa. Amin.
Sumber : www.renunganpagi.blogspot.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.