“Kasihilah Tuhan Allahmu, dan kasihilah sesamamu seperti dirimu sendiri.”(21 Agustus 2015)

Matius (22:34-40)
“Kasihilah Tuhan Allahmu, dan kasihilah sesamamu seperti dirimu sendiri.”
Ketika orang-orang Farisi mendengar, bahwa Yesus telah membungkam orang-orang Saduki, berkumpullah mereka. Seorang dari antaranya, seorang ahli Taurat, bertanya kepada Yesus hendak mencobai Dia, “Guru, hukum manakah yang terbesar dalam hukum Taurat?” Yesus menjawab, “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu, dengan segenap jiwamu, dan segenap akal budimu. Itulah hukum yang utama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.”
Demikianlah Injil Tuhan
U. Terpujilah Kristus.

Renungan
Beriman pada Tuhan tidaklah mudah, karena menuntut kerendahan hati, kerelaan hati dan kesederhanaan hati. Contohnya Rut. Ia pindah ke Israel mengikuti mertuanya, Naomi. Ia meninggalkan tanah airnya dan dewa/dewinya. Ia masuk ke tanah air yang baru (Israel) dan menyembah satu Allah saja, Allah Israel (Yahweh). Ia mencintai Allah ini dan harus mewujudkannya dalam hidupnya.

Yesus mengajarkan cinta kepada Allah dan sesama. Kedua hukum Perjanjian Lama ini digabung Yesus menjadi satu. Cinta kepada Allah harus diwujudkan secara nyata dalam cinta kepada sesama. Ini tidak mudah. Kita bisa menimba makna dari pengalaman seorang anak muda yang setia dan sabar merawat kedua orangtuanya yang sudah lanjut usia dan sakit-sakitan. Ayahnya pikun, sementara ibunya sakit stroke (serangan jantung). Tiap hari dia harus membagi waktu untuk bekerja di kantor dan merawat ayah ibunya yang kebutuhannya saling bertolak belakang. Ayahnya yang pikun bisa berbicara, tapi ibunya yang stroke tak bisa berbicara. Ayahnya bisa ngomong tapi pelupa, ibunya ingatannya kuat tapi tak bisa berbicara. Ayahnya bisa berjalan, tetapi kalau ke luar tak ingat jalan pulang, sementara ibunya tak bisa jalan jauh, tapi bisa tahu jalan.

Kadang dia menangis, tak tahu harus bagaimana dan mengapa harus terjadi demikian. Doa selalu dipanjatkannya. Dia pun berusaha membawa kedua orangtuanya tiap Minggu ke gereja, walau sulit. Cintanya kepada Tuhan dalam doa, diwujudkannya dalam mencintai orangtuanya yang sudah tua dan sakit itu. Sungguh luar biasa.

Doa
Allah Bapa, kebenaran dan cinta kasih, Engkau sudah memenuhi Santo Pius Kesepuluh dengan kebijaksanaan surgawi serta keteguhan para rasul. Ia menjaga iman yang benar dan mempersatukan segalanya di bawah Kristus. Semoga kami menuruti ajaran dan teladannya dan memperoleh ganjaran yang kekal. Dengan pengantaraan Yesus Kristus, Tuhan kami yang bersama Dikau, dalam persatuan Roh Kudus, hidup dan berkuasa kini dan sepanjang masa. Amin.
Sumber : www.renunganpagi.blogspot.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.