“Jika aku mendaki ke langit, Engkau di sana; jika aku menaruh tempat tidurku di dunia orang mati, di situpun Engkau.” (26 Agustus 2015)

Matius (23:27-32)
“Kalian ini keturunan pembunuh nabi-nabi.”
Pada waktu itu Yesus berkata, “Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu sama seperti kuburan yang dilabur putih, yang sebelah luarnya memang bersih tampaknya, tetapi yang sebelah dalamnya penuh tulang belulang dan pelbagai jenis kotoran. Demikian jugalah kamu, di sebelah luar kamu tampaknya benar di mata orang, tetapi di sebelah dalam kamu penuh kemunafikan dan kedurjanaan. Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu membangun makam nabi-nabi dan memperindah tugu orang-orang saleh dan berkata: Jika kami hidup di zaman nenek moyang kita, tentulah kami tidak ikut dengan mereka dalam pembunuhan nabi-nabi itu. Tetapi dengan demikian kamu bersaksi terhadap diri kamu sendiri, bahwa kamu adalah keturunan pembunuh nabi-nabi itu. Jadi, penuhilah juga takaran nenek moyangmu!
Demikianlah Injil Tuhan
U. Terpujilah Kristus.

Renungan
Dari dahulu sampai sekarang tukang ramal itu ada. Pada zaman Paulus, umat Tesalonika tergoda akan ramalan hari kiamat. Agar mereka tak masuk perangkap ramalan palsu itu, Paulus bekerja keras memberitakan Injil yang benar. Di zaman kini, ada juga orang yang meramal demikian. Kita masih ingat akan ramalan kiamat pada tahun 2000 dan tahun 2012. Tapi semua ramalan itu tak ada yang terjadi. Palsu!

Tentang hari kiamat, Yesus berkata, ”tak seorang tahu, Anak pun tidak, hanya Bapa saja.” Kita harus berpegang pada ajaran Yesus ini. Firman Tuhan harus kita percayai sungguh, hingga firman itu hidup dan bekerja di dalam diri kita serta menghasilkan buah. Kita harus meninggalkan hal-hal munafik, sebab ia seperti kuburan: indah di luar, tapi busuk di dalam. Ramalan bisa membuat kaya si peramal, namun derita bagi yang percaya. Janganlah kita percaya akan ramalan, tidak hanya ramalan akan hari kiamat, tetapi juga ramalan akan nasib dengan melihat garis tangan, kartu, zodiak, bola kristal, dsb. Semuanya itu dapat membuat kita takut, tidak bekerja maksimal, dan ditipu. Siapakah yang tahu akan masa depan kita selain Tuhan? Tukang ramal saja tidak mau meramal dirinya! Lalu, mengapa kita mau ikut dia?

Doa
Allah Bapa kami yang mahabaik, bukalah kiranya hati kami, agar dapat memahami benar sabda-Mu. Bukalah kiranya lisan kami, agar dapat mewartakan misteri-Mu. Dengan pengantaraan Yesus Kristus, Putra-Mu, Tuhan kami, yang bersama Dikau, dalam persatuan Roh Kudus, hidup dan berkuasa kini dan sepanjang masa. Amin.
Sumber : www.renunganpagi.blogspot.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.