Siap Melayani: Spiritualitas Pemimpin Sejati

Walaupun dua kali percobaan itu tidak menghasilkan buah melimpah seperti yang diharapkan, LBI toh meyakini bahwa Hari Minggu Kitab Suci harus diteruskan dan diusahakan, dg tujuan sebagai berikut:

  1. Untuk mendekatkan dan memperkenalkan umat dengan sabda Allah. Kitab Suci juga diperuntukkan bagi umat biasa, tidak hanya untuk kelompok tertentu dalam Gereja. Mereka dipersilahkan melihatnya dari dekat, mengenalnya lebih akrab sbg sumber kehidupan iman.
  2. Untuk mendorong agar umat memiliki dan menggunakannya. Melihat dan mengagumi saja belum cukup. Umat perlu didorong untuk memilikinya paling sedikit setiap keluarga mempunyai satu Kitab Suci di rumahnya. Dengan demikian, umat dapat membacanya sendiri utk memperdalam iman kepercayaannya sendiri.

Dalam sidang MAWI 1977 para uskup menetapkan agar satu Hari Minggu tertentu dalam tahun gerejani ditetapkan sebagai Hari Minggu Kitab Suci Nasional. Hari Minggu yang dimaksudkan adalah Hari Minggu Pertama September. Dalam perkembangan selanjutnya keinginan umat untuk membaca dan mendalami Kitab Suci semakin berkembang. Satu Minggu dirasa tidak cukup lagi untuk mengadakan kegiatan-kegiatan seputar Kitab Suci. Maka, kegiatan-kegiatan ini berlangsung sepanjang bulan September dan bulan ke-9 ini sampai sekarang menjadi Bulan Kitab Suci Nasional.

Courtesy: YM Seto Marsunu (Sekretaris LBI)

 

Mohon perhatian:

1) Berpakaianlah dengan pantas dan sopan saat hadir dalam perayaan Ekaristi. Kita tidak sedang dalam acara pamer pakaian dan badan tetapi menghadap Tuhan dalam kekudusan dengan seluruh umat beriman. Ingatlah: Ajining dhiri gumantung saka kedhaling lathi. Ajining salira gumantung saka busana (Kehormatan pribadi ada pada ucapan lidah seseorang. Kehormatan badan ada pada pakaian yang dikenakan).

2) Letakkan sampah di tempat sampah. Janganlah kita suka menyampah di dalam gereja.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.