logo karangpanas

Gereja St. Athanasius Agung
Paroki Karangpanas

Jl. Dr. Wahidin 108 Semarang

Paroki KarangpanaS

Jadwal Misa

Harian:
Senin-Sabtu 05.30 WIB (online)
Mingguan:
Sabtu sore 17.30 WIB
Minggu pagi 1 06.00 WIB
Minggu pagi 2 08.30 WIB (online)
Minggu sore 17.30 WIB

Puncta

Puncta hari ini
Membaca adalah jiwa

Berita Paroki

Berita paroki Karangpanas terbaru

Warta Paroki

Warta Paroki Terbaru
Klik disini

Video Komsos

Subscribe channel YouTube Komsos Karangpanas

Kolekte

Link donasi dan kolekte
Klik disini

gereja lama

narahubung

(024) 8312595

+62 812-1620-3348

WARTA PAROKI

PUNCTA

“Bukankah wanita keturunan Abraham ini harus dilepaskan dari ikatannya sekalipun pada hari sabat?” (26 Oktober 2015)

Lukas (13:10-17)

“Bukankah wanita keturunan Abraham ini harus dilepaskan dari ikatannya sekalipun pada hari sabat?”

Pada suatu hari Sabat Yesus mengajar dalam salah satu rumah ibadat. Di situ ada seorang wanita yang telah delapan belas tahun dirasuk roh. Ia sakit sampai bungkuk punggungnya dan tidak dapat berdiri lagi dengan tegak. Ketika Yesus melihat wanita itu dipanggil-Nyalah dia. Lalu Yesus berkata, “Hai Ibu, penyakitmu telah sembuh.” Kemudian wanita itu ditumpangi-Nya tangan, dan seketika itu juga ia berdiri tegak dan memuliakan Allah. Tetapi kepala rumah ibadat itu gusar karena Yesus menyembuhkan orang pada hari Sabat. Lalu ia berkata kepada orang banyak, “Ada enam hari untuk bekerja. Karena itu datanglah pada salah satu hari itu untuk disembuhkan dan jangan pada hari Sabat.” Tetapi Tuhan menjawab dia, kata-Nya, “Hai orang-orang munafik, bukankah kalian semua melepaskan lembu dan keledaimu pada hari Sabat dan membawanya ke tempat minum? Nah, wanita ini sudah delapan belas tahun diikat oleh Iblis. Bukankah dia harus dilepaskan dari ikatannya itu karena dia keturunan Abraham?” Waktu Yesus berbicara demikian, semua lawan-Nya merasa malu, sedangkan orang banyak bersukacita karena segala perkara mulia yang telah dilakukan-Nya.
Demikianlah Injil Tuhan
U. Terpujilah Kristus.

Renungan
Banyak orang mengalami ‘kehabisan kata’ dalam berdoa sehingga berhenti berdoa. Demikian pula, banyak orang merasa tidak cukup fasih untuk berdoa dengan kata-kata spontan. Barangkali berdoa menjadi sesuatu yang sulit kalau dihayati sebagai ‘berkata-kata kepada Tuhan dalam untaian kata dan kalimat’.

Rasul Paulus mengingatkan kita bahwa berdoa adalah karya Roh. Oleh Roh, kita telah menjadi anak-anak Allah, bahkan menjadi ahli waris Allah, dan oleh Roh itu kita mampu menyapa Allah sebagai ‘Abba, ya Bapa.’ Roh mengubah martabah kita menjadi anak Allah dan memungkinkan kita menyapa Dia sebagai Bapa. Jadi, berdoa sebenarnya berarti membiarkan Roh bekerja dan memampukan kita berkomunikasi dengan Allah, sang Bapa.

Dalam perjumpaan Yesus dengan wanita yang telah delapan belas tahun dirasuki roh, Yesus mampu mendengar dan menangkap kebutuhan wanita itu walau tak terungkap lewat kata. Dan Yesus yang mampu mendengar dengan hati-Nya langsung menyembuhkan wanita itu. Walaupun oleh karena tindakan itu Ia dianggap melanggar hukum hari Sabat. Bagi Yesus, keselamatan dan kebahagiaan wanita itu lebih penting. Mampukah kita berkomunikasi atau berdoa kepada Allah dengan hati kita?

Doa
 Allah Bapa kami yang mahabaik, berkenanlah mengutus Roh-Mu mendatangi kami dan jadikanlah kami putra dan putri-Mu, yang tinggal di dunia ini dengan bebas serta penuh rasa syukur. Dengan pengantaraan Yesus Kristus, Putra-Mu, Tuhan kami, yang bersama Dikau dalam persatuan Roh Kudus, hidup dan berkuasa, Allah, sepanjang segala masa. Amin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.