Sabda Hidup: Sabtu, 7 November 2015

Bacaan Injil: Luk. 16:9-15.

9 Dan Aku berkata kepadamu: Ikatlah persahabatan dengan mempergunakan Mamon yang tidak jujur, supaya jika Mamon itu tidak dapat menolong lagi, kamu diterima di dalam kemah abadi.” 10 “Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar. 11 Jadi, jikalau kamu tidak setia dalam hal Mamon yang tidak jujur, siapakah yang akan mempercayakan kepadamu harta yang sesungguhnya? 12 Dan jikalau kamu tidak setia dalam harta orang lain, siapakah yang akan menyerahkan hartamu sendiri kepadamu? 13 Seorang hamba tidak dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.” 14 Semuanya itu didengar oleh orang-orang Farisi, hamba-hamba uang itu, dan mereka mencemoohkan Dia. 15 Lalu Ia berkata kepada mereka: “Kamu membenarkan diri di hadapan orang, tetapi Allah mengetahui hatimu. Sebab apa yang dikagumi manusia, dibenci oleh Allah.

Renungan:

ADA seorang anak selalu rapi menata barang-barangnya. Setiap kali selesai bermain ia selalu mengembalikan mainannya di tempatnya. Dan semua barangnya ia tata dengan rapi. Sampai dewasa pun ia tetap begitu. Bahkan bukan hanya barangnya yang ditata rapi, tetapi pola pikir dan kerjanya juga sangat rapi. Kata-katanya pun tertata dengan baik.

Kebiasaan sejak kecil yang dimiliki orang itu terbawa sampai dewasa. Kesetiaannya pada perkara-perkara kecil membentuk dirinya sehingga mampu mengerjakan perkara besar di masa dewasanya.

Kiranya benar yang dikatakan Yesus, “Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar” (Luk 16:10).

Kontemplasi:

Duduklah dengan tenang. Ingatlah pengalamanmu dalam mengerjakan pekerjaan-pekerjaan kecil, mungkin remeh.

Refleksi:

Sejauh mana aku mempunyai ketekunan melakukan sesuatu yang tampaknya remeh?

Doa:

Tuhan semoga aku tetap tekun mengerjakan hal-hal yang kecil dan tidak meremehkannya. Amin.

Perutusan:

Aku akan mencoba setia pada perkara-perkara kecil. -nasp-

Sumber : www.sesawi.net

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.