Engkaulah anak yang Kukasihi

Seorang bapak yang beberapa waktu yg lalu baru saja menerima sakramen baptis bertemu dengan teman karibnya. Kawannya itu bertanya, “Aku dengar kamu telah menjadi orang Katolik, ya? Besok kalau mati jadi celeng loh! Disalib lagi….ngeri!” Bapak itu menjawab, “Betul. Aku sudah menjadi Katolik sebagaimana istri dan anak-anakku. Tidak ada yg mengerikan koq sbg orang Katolik apalagi menjadi celeng. Itu hanya isapan jempol!” Temannya menyahut, “Wahhh…pintar bicara kau sekarang! Coba aku tanya, tahukah kamu tgl. berapa Yesus disalib?” Bapak itu menjawab, “Aku tak tahu.” Temannya melanjutkan, “Siapa nama kedua belas rasul Yesus?” Lagi-lagi, bapak itu menjawab, “Aku lupa.” Temannya bertanya kembali, “Di mana Yesus dibesarkan?” “Wadduhh…aku sudah tak ingat lagi!” seru bapak itu. Temannya berkata, “Katanya kamu orang Katolik, koq ditanya tentang Yesus yg kamu imani malah tidak tahu. Apa gunanya jadi Katolik? Capeee dech!

Bapak itu menghela napas lalu berkata, “Memang aku tak pernah bisa mengingat semua pelajaran agama Katolik yg diajarkan. Namun, ada perubahan besar kualami. Semenjak dibaptis, aku tak lagi mabuk-mabukan dan berselingkuh. Aku tak lagi berlaku kasar kepada istri dan anak-anakku. Kini, setiap malam kami berdoa bersama. Ada kedamaian dan kerukunan. Ada sukacita dan kasih dari rumah kami senantiasa. Sungguh, aku bersyukur telah menjadi Katolik!”

Untuk direnungkan: Sudahkah aku sungguh-sungguh menghayati baptisanku? Buah-buah rohani macam apa yg telah kuwujudkan dlm hidupku sbg orang yg dibaptis? Apakah aku telah mendalami iman Katolik agar makin paham-mendalam imanku?***d2t

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.