logo karangpanas

Gereja St. Athanasius Agung
Paroki Karangpanas

Jl. Dr. Wahidin 108 Semarang

Paroki KarangpanaS

Misa Online

Senin-Sabtu 05.30 WIB
Minggu 08.30 WIB

Puncta

Puncta hari ini
Membaca adalah jiwa

Berita Paroki

Berita paroki Karangpanas terbaru

Warta Paroki

Warta Paroki Terbaru
Klik disini

Video Komsos

Subscribe channel YouTube Komsos Karangpanas

Kolekte

Link donasi dan kolekte
Klik disini

gereja lama

narahubung

(024) 8312595

+62 812-1620-3348

WARTA PAROKI

PUNCTA

Puncta Selasa, 30 November 2021

“Yesus berkata kepada mereka: “Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia.” <Mat 4:18-22> Setiap orang yang dibaptis khususnya, mempunyai tanggungjawab untuk menjadi murid-Nya

Selengkapnya »

Sabda Hidup: Rabu, 20 Januari 2016

Fabianus, Sebastianus

warna liturgi Hijau

Bacaan

1Sam. 17:32-33,37,40-51; Mzm. 144:1,2,9-10; Mrk. 3:1-6. BcO Kej. 14:1-24

Bacaan Injil: Mrk. 3:1-6.

1 Kemudian Yesus masuk lagi ke rumah ibadat. Di situ ada seorang yang mati sebelah tangannya. 2 Mereka mengamat-amati Yesus, kalau-kalau Ia menyembuhkan orang itu pada hari Sabat, supaya mereka dapat mempersalahkan Dia. 3 Kata Yesus kepada orang yang mati sebelah tangannya itu: “Mari, berdirilah di tengah!” 4 Kemudian kata-Nya kepada mereka: “Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membunuh orang?” Tetapi mereka itu diam saja. 5 Ia berdukacita karena kedegilan mereka dan dengan marah Ia memandang sekeliling-Nya kepada mereka lalu Ia berkata kepada orang itu: “Ulurkanlah tanganmu!” Dan ia mengulurkannya, maka sembuhlah tangannya itu. 6 Lalu keluarlah orang-orang Farisi dan segera bersekongkol dengan orang-orang Herodian untuk membunuh Dia.

Renungan:

PILIHAN yang diberikan Yesus sebenernya gampang untuk dijawab. “Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membunuh orang?” (Mrk 3:4). Namun orang-orang tidak mau menjawab. Mereka diam saja. Satu hal yang membuat mereka diam yaitu karena mereka tidak mau masuk dalam jebakannya sendiri. Kalau mereka menjawab menyelamatkan orang maka mereka akan melanggar hari Sabat. Kalau menjawab membunuh, maka mereka akan dianggap tidak mempunyai perikemanusiaan.

Ketika seseorang mempunyai niat buruk pada orang lain maka mereka akan kesulitan menjawab hal yang mudah. Jawaban yang benar dan sesuai hati nuraninya pun akan dihindari. Dalam kondisi seperti itu orang akan cenderung diam. Mereka tidak mau masuk dalam perangkapnya sendiri.

Kiranya kita pun bisa belajar. Kita tidak perlu membuat jebakan-jebakan kepada orang lain. Bila kita membuat jebakan-jebakan, makan ada kemungkinan kita sendiri yang akan masuk dalam perangkap jebakan tersebut. Hidup ini akan sederhana bila kita berani melepaskan diri dari usaha menjebak sesama.

Kontemplasi:

Bayangkan kisah dalam Injil Mrk. 3:1-6. Jawablah pertanyaan Yesus sesuai dengan hati nuranimu.

Refleksi:

Tulislah pengalamanmu ketika mengalami mati kutu oleh jebakanmu sendiri.

Doa:

Bapa semoga aku sungguh wajar dalam hidup ini. Semoga aku terbebas dari jebakan dan keinginan menjebak. Amin.

Perutusan:

Aku akan menjawab dengan jujur hal-hal yang menyangkut kehidupan. -nasp-

Sumber : www.sesawi.net

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.