Lagi Tentang Kerendahan Hati

Rabu, 24 Februari 2016
Pekan Prapaskah II
Yer 18:18-20; Mzm 31:5-6.14.15-16; Mat 20:17-28

Yesus bersabda, “Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu. Sama seperti Anak Manusia: Ia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani, dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.”

DALAM Injil hari ini, lagi, Yesus mengajarkan kepada kita tentang kerendahan hati. Maka Yesus bersabda, “Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu. Sama seperti Anak Manusia: Ia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani, dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.” Yesus menghendaki kita menjadi pribadi yang rendah hati dengan melayani Allah dan sesama. Kita menyebutnya kerendahan hati.

Apa itu kerendahan hati? Kerendahan hati bukan perasaan buruk tentang diri sendiri, atau penilaian rendah tentang diri kita. Ia juga bukan soal pikiran inferior tentang diri sendiri.

Kerendahan hati sejati adalah kebenaran tentang pemahaman diri dan selaras dengan tindakan. Ia membebaskan kita untuk mengasihi dan melayani sesama dengan sukacita dan tanpa berpusat pada diri sendiri, melainkan demi kepentingan sesama dari pada demi diri sendiri.

Dengan kerendahan hati kita, kita harus mengutamakan Allah, Kristus dan sesama. Kita melayani dengan penuh kasih dalam Kristus. Ia pun akan meninggikan kita bila kita melayani sesama, terutama bila kita membawa sesama mengasihi dan melayani Dia.

Dalam Adorasi Ekaristi Abadi sementara menyembah Yesus Kristus kita ingin menjadi hamba seperti Yesus yang telah mengasihi dan melayani kita dan sesama. Ia sendiri telah memberikan Hati Kudus-Nya, hati sebagai Hamba yang mengupayakan kebaikan orang lain dan mengutamakan kepentingan orang lain dengan penuh perhatian kepada semua.

Tuhan Yesus Kristus, terlalu sering kami membandingkan diri kami sendiri dengan orang lain. Begitu mudah kami bersikap superior terhadap yang lain. Kami lupa bahwa semua yang ada datang dari pada-Mu, maka kami tidak bisa mengklaim semua karisma, kualitas dan keutamaan itu. Bantulah kami untuk tetap menyadarinya hingga kami boleh selalu bersikap rendah hati kini dan selamanya. Amin.

Sumber : www.sesawi.net

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.