Pergilah dan Jangan Berbuat Dosa Lagi!

Melihat dan menilai kekurangan, kelemahan, kegagalan bahkan apa saja yang dilakukan orang lain kemudian mengadili dengan sekehendak hati adalah hal yang mungkin sering kita lakukan. Hal itu juga nampak dengan jelas dalam Injil hari ini saat sekelompok laki-laki menyeret perempuan yang tertangkap basah berbuat zinah. Kaum laki-laki dengan beringas meminta agar perempuan itu dihukum rajam sebagaimana Taurat Musa menyatakannya. Lagi-lagi, perempuan selalu dijadikan korban sementara laki-laki yang juga berzinah tidak ikut diadili. Jelas ada ketidakadilan. Keinginan kaum laki-laki untuk menghukum perempuan itu justru menjadi bumerang tajam yang berbalik mengenai mereka sendiri dengan telak. Secara cerdik Yesus menjawab, “Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama kali melemparkan batu kepada perempuan ini.” Akhirnya mereka mundur teratur dan pergi. Yesus bukannya setuju perbuatan dosa yang dilakukan perempuan itu tetapi Ia mengritik perlakuan kesewenang-wenangan kepada kaum lemah serta membela korban ketidakadilan. Kepada perempuan itu, Tuhan Yesus tegas berkata, “Pergilah dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang!” Itu menunjukkan bahwa Yesus membenci perbuatan dosa sekaligus memberikan pengampunan agar pendosa mau bertobat.

Seringkali kita pun bersikap beringas dan mudah mengadili orang lain karena merasa bahwa kita bukan termasuk pelaku kejahatan. Ingat, bahwa kita ini sering juga bersikap munafik! Masih beranikah aku berkata dengan sombong: “Tuhan, aku tidak berdosa! Aku berhak melemparkan batu pertama kali kepada para pendosa.” ***d2t

 

Don’t forget, please!

1) Para calon mempelai, hendaklah sekurang-kurangnya 3 bulan sebelum hari perkawinan sudah mendaftarkan diri ke sekretariat paroki. Mohon tidak mepet agar Romo dapat mengagendakan jadwal unutk kanonik dan proses lainnya dengan baik. Akan lebih baik jika jauh-jauh hari sebelumnya (tdk hanya selambat-lambatnya 3 bulan sebelum hari H) segera menghubungi petugas sekretariat paroki.

2) Marilah kita selalu mengenakan pakaian yang sopan dan pantas untuk beribadat. Jangan memakai pakaian rekreasi: tank top, celana heap, rok mini, baju U can see, celana ketat, celana pendek/short pants, dsj. untuk Ekaristi. Hendaklah bisa empan papan seraya mengingat nasihat ini: Ajining salira gumantung saka busana (kehormatan diri kita ditentukan dari busana macam apa yang kita kenakan). Anda mau dihormati orang lain? Mulailah dg menghargai dan menghormati diri Anda sendiri dalam berpakaian. You can do it for God’s glory!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.