Tentang Pentakosta dan karunia bahasa**

Lukas dalam Kis 2:1-13 melukiskan sedemikian rupa peristiwa Pentakosta sehingga dapat dibaca dan dimengerti oleh pembaca segala zaman. Kalau kita amati, ternyata tradisi pentakosta sudah ada sejak awal. Pesta ini diadakan sebagai salah satu dari tiga pesta utama agama Yahudi, yakni Paska, Pondok Daun dan Pentakosta. Pentakosta adalah hari kelimapuluh sesudah orang Yahudi meninggalkan Mesir menuju Tanah Terjanji dan di Gunung Sinai mereka menerima Sepuluh Firman Tuhan. Lukas sebenarnya memberi “Warna Baru” pada kisahnya dengan mengungkapkan Yesus yang bangkit dan turunnya Roh Kudus sebagai pemenuhan janji Bapa.

Sasaran Pencurahan Roh Kudus:“Pada hari Pentakosta semua orang percaya berkumpul di suatu tempat.” Orang bertanya, sebenarnya Roh Kudus pada saat itu turun hanya ke atas 12 murid itu atau juga kepada orang-orang percaya lain yang hadir bersama dengan kelompok 12 tersebut? Pendekatan pertama, para ekseget (= penafsir resmi Kitab Suci) sepakat bahwa dengan mengganti atau melengkapi jumlah keduabelas rasul dalam pengangkatan Matias menunjukkan bahwa yang dimaksud dengan “orang-orang percaya dan mereka” dalam kisah itu adalah jumlah keduabelas rasul yang merupakan juga wakil dari keduabelas suku Israel.

Dalam pendekatan kedua, mereka melihat bagaimana Lukas dengan sangat bebas mengungkapkan kisah ini; gaya macam itu bisa menimbulkan kesimpulan bahwa orang-orang yang berkumpul di tempat itu pun dipenuhi dengan Roh Kudus. Kalau kita dengan sedikit hati-hati memakai pendekatan kedua, kita melihat ternyata Roh Kudus itu juga hadir dalam diri orang-orang percaya. Dengan rahmat itu mereka sanggup memahami apa yang dikatakan para Rasul kepada mereka.

Saat ini orang mencampuradukkan antara “bahasa-bahasa lain” pada hari Pentakosta dengan “bahasa Roh” dalam 1 Kor:14. Akibatnya tidak sedikit orang yang merasa mempunyai karunia seperti para rasul. Padahal itu sebenarnya dua hal yang mempunyai makna dan latar belakang berbeda. Contoh: Pada hari Pentakosta: ada karunia berbicara dalam bahasa lain, sedangkan Jemaat di Korintus: karunia untuk berkata-kata dalam bahasa Roh. Pada Pentakosta semua mulai berbicara dalam bahasa-bahasa lain; sedangkan di Korintus tidak semua orang percaya berkata-kata dalam bahasa Roh. Pada Pentakosta bahasa yang diucapkan dapat dimengerti oleh semua orang – mereka heran dan tercengang; sedangkan di Korintus, bahasa yang diucapkan tidak dimengerti oleh seorang pun. Jadi ada perbedaan besar.

Maka orang lebih berkesimpulan seperti ini: karunia berbahasa Roh bukan bukti utama kehadiran Roh Kudus dalam diri seseorang; bukti paling utama adalah buah-buah Roh. Sebab dalam diri orang-orang yang mengaku memiliki karunia ini, kadang tak tampak buah-buah Roh itu sendiri.

**dikutip dari yesaya.indocell.net/id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.