Ekaristi perayaan belaskasih Allah

Kita membuka dan menutup doa dengan tanda salib. Kita memulai dan menyelesaikan peziarahan hidup kita juga dengan tanda salib. Dengan tanda itu, Gereja membawa kita kepada pengakuan iman akan Bapa, Putra dan Roh Kudus. Misteri agung iman ini telah dinyatakan dengan jelas oleh Allah Putra, Sang Sabda yang berinkarnasi (menjelma) menjadi manusia ketika Dia bersabda mengutus para rasul, “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus” (Matius 28:19). Sementara itu, di dalam Injil Yohanes, Yesus Sang Allah Putra menegaskan kembali kebersatuan-Nya dengan Bapa: “Percayalah kepada-Ku, bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku atau setidak-tidaknya, percayalah karena pekerjaan-pekerjaan itu sendiri” (Yoh 14:11). Merenungkan misteri iman Tritunggal Mahakudus, kita justru diajak utk masuk dalam kebersatuan kasih Allah yang sempurna dalam hidup Ilahi. Tritunggal Mahakudus tiada lain adalah pernyataan kasih Allah yang mengomunikasikan diri-Nya kepada kita sebagai ciptaan-Nya yg terbatas. Allah mengomunikasikan diri-Nya yang tak terbatas justru dalam bahasa manusia yang terbatas sehingga tak mungkinlah kita mampu memahami Allah setuntas-tuntasnya. Kalau Allah mampu dipahami seluruhnya oleh manusia yg terbatas, Allah tak lagi menjadi Mahaagung sebab tak ada lagi misteri dalam keagungan-Nya. Iman mjd penting dlm menghayati misteri ini. Berpegang pada Kitab Suci yang adalah benar adanya, marilah kita semakin mensyukuri bahwa kita boleh mengalami sedikit pernyataan diri Allah yang sungguh mengasihi kita. Allah sungguh hebat tetapi juga sangat dekat. Inilah sukacita iman Kristiani bahwa iman Katolik menekankan dimensi relasional. Kemuliaan kepada Bapa, dan Putra dan Roh Kudus. Amin. ***d2t

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.