Ikutlah Aku!

Kalau kita ditanya seperti ini: “Apakah Anda mau setia mengikuti Yesus? Sampai kapan?” Apakah jawabanku? Tentu secara normatif, saya yakin, kita akan mengatakan bahwa mau ikut Yesus sampai akhir hidup kita. Bener, nih? Mengikuti Yesus janganlah sekedar spontanitas/emosional belaka tetapi keputusan yg penuh pertimbangan yg dilakukan dengan sadar, bebas dan gembira. Maka ada konsekuensi dari setiap pilihan atau keputusan yg kita ambil utk mengikut Yesus. Pertama, mengikut Yesus tidak selalu enak dan nyaman. “Anak Manusia tdk mempunyai tempat utk meletakkan kepada-Nya.” Yesus tdk membutuhkan orang yg manja dan ingin enaknya saja. Yesus menuntut kualitas dari kita: berani nggetih bersama Dia. Kedua, mengikut Yesus adalah keputusan yg tepat dan pasti, bukan menunda-nunda. “Izinkanlah aku terlebih dahulu menguburkan bapaku” adalah contoh penundaan akan panggilan mengikut Yesus. Ketiga, mengikut Yesus adalah keputusan untuk maju, tdk bisa mundur lagi dan tdk ada penyesalan di kemudian hari. Ibaratnya spt pesawat terbang yg sudah lepas landas, tak mungkin mundur atau berhenti mendadak; harus tetap maju dg mantap. Kalau sungguh ikut Yesus, berlaku hal ini: “Yen wani, aja wedi-wedi. Yen wedi, aja wani-wani.” Sungguh mau ikut Yesus dengan gembira dan setia dalam iman Katolik? “Scio cui credidi” (Aku tahu, kepada siapa aku percaya). Itulah pernyataan Paulus akan imannya kepada Yesus untuk mengikuti-Nya sampai akhir hidup.***d2t

 

Nasihat Rohani *Petrus Krisologus (400-450 M)*

“Ia adalah Roti yang ditabur dalam rahim Bunda Perawan, diragikan dalam daging, dibentuk dalam sengsara-Nya, dipanggang dalam dapur api makam, ditempatkan dalam Gereja, dan disajikan di atas altar-altar yang setiap hari menyediakan Makanan Surgawi bagi umat beriman.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.