Kamis, 09 Februari 2017 Hari Biasa Pekan V

Kamis, 09 Februari 2017
Hari Biasa Pekan V

“Tanpa Allah manusia tidak tahu kemana ia harus pergi dan tidak mampu memahami siapakah dirinya.” (Paus Benediktus XVI, Ensiklik Caritas in Veritate, Kasih dalam Kebenaran, No. 78)
     
Antifon Pembuka (Mzm 128:1)
Berbahagialah orang yang takwa kepada Tuhan, yang hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya.
Inilah Injil Yesus Kristus menurut Markus (7:24-30)
“Anjing-anjing pun makan remah-remah yang dijatuhkan anak-anak.”
Pada waktu itu Yesus meninggalkan daerah Galilea dan berangkat ke daerah Tirus. Ia masuk ke sebuah rumah dan tidak mau bahwa ada orang yang mengetahuinya. Tetapi, kedatangan-Nya tidak dapat dirahasiakan. Malah di situ ada seorang ibu, yang anak perempuannya kerasukan roh jahat. Begitu mendengar tentang Yesus. Ibu itu datang dan tersungkur di depan kaki-Nya. Ibu itu seorang Yunani berkebangsaan Siro-Fenisia. Ia mohon kepada Yesus supaya mengusir setan dari anaknya. Yesus lalu berkata kepadanya, “Biarlah anak-anak kenyang dahulu! Tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing.” Tetapi ibu itu menjawab, “Benar, Tuhan! Tetapi anjing di bawah meja pun makan remah-remah yang dijatuhkan anak-anak.” Lalu Yesus berkata kepada ibu itu, “Karena kata-katamu itu, pulanglah, sebab setan itu sudah keluar dari anakmu.” Ibu itu pulang ke rumah dan mendapati anaknya terbaring di tempat tidur, sedang setan itu sudah keluar.
Inilah Injil Tuhan kita!
U. Sabda-Mu sungguh mengagumkan!

Renungan
Seorang perempuan Yunani dari Siro-Fenesia telah menggerakkan hati Tuhan Yesus untuk berbelas-kasih. Ia bukan seorang wanita Yahudi, tetapi imanya kuat dan mendalam. Meskipun kata-kata Tuhan Yesus terdengar keras dan pedas, ia tidak bergeming. Kata-katanya, yang adalah pancaran keyakinannya, meluluhkan hati Tuhan Yesus. “Pergilah sekarang, sebab setan itu sudah keluar dari anakmu.” Selanjutnya, perempuan itu mendapati anaknya telah bebas dari kuasa setan.

Kata-kata perempuan itu adalah ungkapan iman. Secara sederhana iman adalah tanggapan manusia atas pewahyuan Allah. Namun iman bukan semata-mata pendapat dan perasaan manusiawi. Iman lebih tegas dari itu. Iman berasal dari pikiran yang tak tergoyahkan kepada kebenaran yang dinyatakan oleh Tuhan. Dalam hal ini iman itu memiliki dimensi ilahi, karena bertitik-tolak dari Tuhan sendiri. Iman perempuan itu bukan berasal dari kemampuannya melihat dan memahami Yesus, tetapi Tuhan menyatakan itu kepadanya, agar orang lain pun menjadi percaya karenanya. Di sini kita dapat memahami dimensi universal karya Tuhan yang menjangkau semua orang dari segala bangsa, segala bahasa dan segala zaman. Jika Tuhan mengasihi secara demikian, betapa lebih besar lagi cinta-Nya kepada kita, anak-anak-Nya. Hanya saja kita sering kurang beriman, mengandalkan kemampuan sendiri dan menghambakan diri pada kuasa-kuasa duniawi.
Sumber :  renunganpagi.blogspot.co.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.