Sabda Hidup: Rabu, 15 Februari 2017

Klaudiusde La Colombiere

warna liturgi Hijau

Bacaan

Kej. 8:6-13,20-22; Mzm. 116: 12-13,14-15,18-19; Mrk. 8:22-26. BcO1Kor 8:1-13

Bacaan Injil: Mrk. 8:22-26.

22 Kemudian tibalah Yesus dan murid-murid-Nya di Betsaida. Di situ orang membawa kepada Yesus seorang buta dan mereka memohon kepada-Nya, supaya Ia menjamah dia. 23 Yesus memegang tangan orang buta itu dan membawa dia ke luar kampung. Lalu Ia meludahi mata orang itu dan meletakkan tangan-Nya atasnya, dan bertanya: “Sudahkah kaulihat sesuatu?” 24 Orang itu memandang ke depan, lalu berkata: “Aku melihat orang, sebab melihat mereka berjalan-jalan, tetapi tampaknya seperti pohon-pohon.” 25 Yesus meletakkan lagi tangan-Nya pada mata orang itu, maka orang itu sungguh-sungguh melihat dan telah sembuh, sehingga ia dapat melihat segala sesuatu dengan jelas. 26  Sesudah itu Yesus menyuruh dia pulang ke rumahnya dan berkata: “Jangan masuk ke kampung!”

Renungan

KEHADIRAN pribadi yang membawa sesuatu selalu dinanti-nantikan. Dulu saya selalu menunggu tanggal muda. Pada tanggal itu kakek selalu mengajak ambil pensiun. Setelah dapat uang pensiun terus diajak makan soto. Ketika datang tanggal baru harapan itu membuat wajah ceria.

Si buta menantikan kesembuhannya di Betsaida. Lama ia bergelut dengan harapan tersebut. Sampai akhirnya ia menemukan pemenuh harapannya. Ia bertemu dengan Yesus yang menyembuhkannya.

Masing-masing dari kita mungkin mempunyai penantian dalam hidup kita. Kala yang dinanti itu mendekat harapan kita pun dikuatkan. Kita pun layak berharap sang pemenuh harapan akan mewujudkan yang kita nantikan.

Kontemplasi

Pejamkan matamu sejenak. Ingatlah satu dua penantianmu.

Refleksi

Tulislah pengalamanmu menjaga harapan.

Doa

Tuhan semoga aku makin mengenal rencana-Mu. Semoga aku tidak putus harapan dalam hidupku. Amin.

Perutusan

Aku akan menjaga api harapanku. -nasp-

Sumber : www.sesawi.net

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.