Sempurnalah sebagaimana Bapa-Mu di surga!

Inspirasi bacaan:

  1. Segenap bangsa dipanggil untuk saling mengasihi agar menjadi kudus di hapadan Allah. Panggilan kekudusan tidak hanya untuk Musa ( segelintir orang ) melainkan segenap bangsa ( Bacaan Pertama – Imamat )
  2. Roh Allah berkenan hadir untuk menguduskan setiap orang Kristen, agar mereka mampu mengasihi sebagaimana Allah mengasihi. ( 1 Korintus )
  3. Bagaimana pengalamanku untuk ajakan Yesus agar kita mempunyai sikap anti kekerasan dan merengkuh budaya kasih? ( Matius )

Ilustrasi Bacaan

http://alkitab.sabda.org/illustration

Dalam “hukum” dunia, kata “mengasihi” dan “musuh” adalah dua kata yang bertolak belakang, karenanya tidak dapat dipersatukan. Dalam bahasa Inggris, musuh adalah enemy, berasal dari bahasa Latin inimicus, artinya “bukan sahabat”. Definisinya jelas: orang yang membenci, menginginkan hal yang tidak baik, menyebabkan jatuh, kecewa, sakit, dan sebagainya. Maka, nasihat untuk mengasihi musuh bisa dibilang aneh. Sebab, normalnya musuh itu mesti dilawan, dibenci, disingkirkan, kalau perlu dibasmi.

Akan tetapi, itulah yang dengan tegas dan jelas diajarkan Tuhan Yesus: “Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu” (Matius 5:44). Ajaran mengasihi musuh tidak saja berdimensi teologis-berkenaan dengan aspek imani-tetapi juga berdimensi praktis dan logis. Pertama, membenci musuh akan merugikan diri sendiri; tidak ada orang yang hidupnya bahagia kalau terus dikuasai kebencian terhadap orang lain. Kedua, melawan kebencian dengan kebencian sama dengan melipatgandakan kebencian. Seperti gelap yang tidak bisa dilawan dengan gelap, tetapi harus dengan terang. Terang, walau hanya secercah, akan sanggup menembus kegelapan.

Dengan memahami makna ajaran “mengasihi musuh”, kita bisa melihat luka tanpa dendam; kepahitan tanpa amarah; kekecewaan tanpa geram. Kita memandangnya sebagai kesempatan untuk mengasihi orang lain; untuk berbuat kebaikan. Seperti kata Alfred Plummer, “Membalas kebaikan dengan kejahatan adalah tabiat Iblis; membalas kebaikan dengan kebaikan adalah tabiat manusiawi; membalas kejahatan dengan kebaikan adalah tabiat ilahi” -AYA

KEMENANGAN TERBESAR ADALAH
KETIKA KITA BERHASIL MENGASIHI LAWAN

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.