Sabda Hidup: Senin, 27 Maret 2017

Hari biasa Pekan IV Prapaskah

warna liturgi Ungu

Bacaan

Yes. 65:17-21; Mzm. 30:2,4,5-6,11-12a,13b; Yoh. 4:43-54. BcOIbr 7:11-28
Bacaan Injil: Yoh. 4:43-54

43 Dan setelah dua hari itu Yesus berangkat dari sana ke Galilea, 44 sebab Yesus sendiri telah bersaksi, bahwa seorang nabi tidak dihormati di negerinya sendiri. 45 Maka setelah ia tiba di Galilea, orang-orang Galileapun menyambut Dia, karena mereka telah melihat segala sesuatu yang dikerjakan-Nya di Yerusalem pada pesta itu, sebab mereka sendiripun turut ke pesta itu. 46 Maka Yesus kembali lagi ke Kana di Galilea, di mana Ia membuat air menjadi anggur. Dan di Kapernaum ada seorang pegawai istana, anaknya sedang sakit. 47 Ketika ia mendengar, bahwa Yesus telah datang dari Yudea ke Galilea, pergilah ia kepada-Nya lalu meminta, supaya Ia datang dan menyembuhkan anaknya, sebab anaknya itu hampir mati. 48 Maka kata Yesus kepadanya: “Jika kamu tidak melihat tanda dan mujizat, kamu tidak percaya.” 49 Pegawai istana itu berkata kepada-Nya: “Tuhan, datanglah sebelum anakku mati.” 50 Kata Yesus kepadanya: “Pergilah, anakmu hidup!” Orang itu percaya akan perkataan yang dikatakan Yesus kepadanya, lalu pergi. 51 Ketika ia masih di tengah jalan hamba-hambanya telah datang kepadanya dengan kabar, bahwa anaknya hidup. 52 Ia bertanya kepada mereka pukul berapa anak itu mulai sembuh. Jawab mereka: “Kemarin siang pukul satu demamnya hilang.” 53 Maka teringatlah ayah itu, bahwa pada saat itulah Yesus berkata kepadanya: “Anakmu hidup.” Lalu iapun percaya, ia dan seluruh keluarganya. 54 Dan itulah tanda kedua yang dibuat Yesus ketika Ia pulang dari Yudea ke Galilea.

Renungan

SUATU kali seorang bapak bertemu dengan seorang pastor. Ia belum mengenal kalau yang ditemuinya itu seorang pastor. Ia berdiskusi panjang lebar. Ia sangat percaya dengan orang itu. Setelah beberapa bulan ia baru tahu kalau berdiskusi dengan pastor. Ia pun, bersama keluarganya, memberikan diri dibaptis.

Pegawai istana pergi kala Yesus mengatakan, “Pergilah, anakmu hidup!” (Yoh 4:50). Ia percaya akan kata-kata Yesus bahwa anaknya hidup. Kepercayaan ini meningkat kala didapati bahwa anaknya bener-bener hidup. Ia dan seluruh keluarganya menjadi percaya kepada Yesus.

Kepercayaan memang membutuhkan proses. Namun juga kepercayaan itu menghadirkan mukjijat. Dalam banyak hal kita sering ragu sehingga tidak segera melakukan atau bahkan menemukan yang kita inginkan. Mari kita buang keraguan dan bangun kepercayaan untuk meraih yang kita harapkan.

Kontemplasi

Pejamkan matamu. Ingat-ingatlah bangunan kepercayaan ketika kamu mengejar sesuatu.

Refleksi

Bagaimana menjaga keutuhan kepercayaan?

Doa

Tuhan seringkali kepercayaanku tidak stabil. Berkatilah aku supaya aku mampu menjaga konsistensi dan keutuhan kepercayaanku. Amin.

Perutusan

Aku akan menjaga konsistensi dan keutuhan kepercayaanku. -nasp-

Sumber : www.sesawi.net

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.