Harapan Sebagai Wakil Ketua Dewan Yang Baru

Oleh: Robertus Basiya/Wakil Ketua II Dewan Paroki

Menjadi Dewan Paroki dan Prodiakon yang baru berarti menjadi pribadi yang mau berubah dan diubah serta siap diutus sebagai pelayan untuk membawa perubahan kepada umat. Siap diutus berarti juga harus siap menanggung semua beban tanggung jawab tanpa pamrih apapun, siap menanggung semua resiko yang akan dihadapi (caci maki, hujatan, dibenci, digugat, di olok-olok, dsb). Seperti Kristus siap diutus oleh Bapa, juga siap menanggung segalanya, bahkan sampai mati di kayu salib.

Menjadi Dewan Paroki bukan untuk mencari kekuasaan, harta, ketenaran, kehormatan, tetapi menjadi pelayan untuk bekerja di ladang Tuhan. Menjadi pelayan berarti harus mau menanggalkan status kita masing-masing. Tidak ada lagi atasan dan bawahan, tidak ada lagi majikan dan pekerja, tidak ada lagi ndoro dan batur, tidak ada lagi komandan dan anak buah, tidak ada lagi penguasa dan suruhan, karena di hadapan Allah kita semua adalah sama. Menjadi Dewan Paroki dituntut harus mau melayani dalam kapasitas tugas kita masing-masing sebagai Dewan Harian, Tim Kerja, Ketua Wilayah dan Ketua Lingkungan, Prodiakon. Seperti sabda Tuhan “Aku datang bukan untuk dilayani, tetapi untuk melayani”.

Sebagai pelayan yang bekerja di ladang Tuhan, maka kita harus memiliki komitmen, mau berkorban, bersikap jujur dan rendah hati.

Berkomitmen artinya dengan iklas hati mau melayani, jangan hanya ingin terpasang namanya saja sebagai anggota Dewan Paroki, tetapi tidak mau ikut terlibat aktif baik dalam rapat-rapat maupun dalam kegiatan-kegiatan lainnya. Jangan hanya datang kalau pas pembekalan dan pelantikan saja. Sebagai Prodiakon jangan hanya mau melayani pada perayaan Misa Kudus di gereja saja, tetapi tidak mau menjadi pemimpin upacara sembahyangan, peringatan arwah dan pemakaman umat yg meninggal dunia.

Berkorban artinya mau menyediakan waktu, tenaga dan pikiran, dan lainnya untuk ikut bekerja sebagai pelayan di ladang Nya. Seperti yang sering dialami oleh teman-teman Dewan Paroki dan Prodiakon selama ini. Kadang harus mengorbankan kepentingan keluarga dan pekerjaan agar dapat mengikuti kegiatan dan rapat-rapat utuk kepentingan pelayanan umat di paroki.

Rendah hati adalah kuncinya sebagai pelayan. Karena rendah hati itu tidak sombong, tidak angkuh, tidak pongah, tidak tinggi hati, bersikap santun. Kita tidak usah meninggikan diri, tidak perlu menonjolkan diri, tidak perlu menunjukkan bahwa kalau tidak ada saya tidak jalan kegiatannya. Karena Tuhan mengatahui apa yg kita lakukan. Seperti dalam Matius 23:12 – Lukas 14:11 “Barang siapa meninggikan diri akan di rendahkan dan barangsiapa yang merendahkan diri akan ditingikan”.

Masih banyak pekerjaan yang harus kita kerjakan untuk ikut mewujudkan visi-misi Keuskupan Agung Semarang yaitu “Mewujudkan peradaban kasih dalam masyarakat Indonesia yang sejahtera, bermartabat dan beriman”, sesuai Road Map Rencana Induk Keuskupan Agung Semarang (RIKAS), Arah Dasar (ARDAS) KAS, dan Fokus Pastoral.

Road map tersebut adalah peta jalan yang menunjukkan arah perjalanan pastoral Keuskupan Agung Semarang menuju Yubilium Ter-Agung pada tahun 2033. RIKAS adalah rencana induk KAS yang terbagi ke dalam ARDAS lima tahunan (sekarang ini ARDAS 2016-2020). Fokus pastoral adalah arah pastoral KAS yang akan dipakai sebagai pedoman dalam penyusunan program pelayanan (PROPEL) tahunan agar sesuai dengan RIKAS dan ARDAS. ARDAS tahun 2016-2020 adalah “Gereja yg Inklusif, Inovasi dan Transformatif”. Inklusif mengedepankan kerjasama dengan semua orang. Inovatif artinya terus-menerus memperbaharui diri. Transformatif artinya berdaya ubah. Program-program pelayanan tahunan yang kita buat (program pelayanan visioner dan rutin) harus disesuaikan dengan RIKAS, ARDAS dan FOKUS PASTORAL. Fokus pastoral di tahun 2020 adalah “Umat Katolik yang Transformatif”.

Setelah pelantikan ini marilah kita bisa bekerjasama satu sama lain sebagai pelayan Tuhan untuk melayani umat di paroki kita, baik sebagai prodiakon, di wilayah dan di lingkungan, dalam Timja, dan di Dewan Harian. Agar kita semua dan semua umat di paroki kita semakin sejahtera, bermartabat, beriman tangguh, visioner dan mendalam. Mari kita bekerja dengan Teteg, Tatag dan Tutug.
Teteg adalah bekerja secara konsisten, berkomitmen tinggi didasari dengan sikap jujur dan rendah hati.
Tatag maksudnya berani ambil resiko sebagai pelayan yang diutus, seperti Kristus berani ambil resiko sampai mati di kayu salib.
Tutug artinya harus tuntas/selesai, setiap apa yang ditugaskan dan direncanakan harus dilaksanakan sampai selesai dan dipertanggung jawabkan secara transparan dan akuntabel.

Terimakasih. Berkah Dalem.