Karangpanas

Renungan Minggu
Minggu, 13-02-2022

Yer 17:5-8
Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia.
Diberkatilah orang yang mengandalkan Tuhan.

1 Kor 15:12.16-20
Andaikata Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah kepercayaanmu.

Luk 6:17.20-26
Sabda Bahagia
Berbahagialah, hai kamu yang sekarang ini lapar, karena kamu akan dipuaskan.
~~
Menghayati hidup dengan cara pandang baru yang selalu disegarkan
~~
Para sahabat yang terkasih. Selamat siang. Sudah merayakan Ekaristi? Bagi yang belum, masih ada kesempatan nanti sore ya.

Dalam salah satu Sabda Bahagia Tuhan Yesus menggunakan ungkapan kata “Lapar”. Ngomong-omong tentang “lapar”, ada ungkapan bahasa Jawa “Lawuh paling enak kuwi rasa luwe,” artinya “Lauk paling enak adalah rasa lapar”. Ungkapan ini saya rasa ada benarnya terbukti dari pengalaman saya pribadi. Dulu saat masih bersama orangtua yg petani saya biasa membantu kerja di sawah; mencangkul, menyiangi tanaman, atau mengairi sawah. Kadang kami seharian kerja di sawah maka ibu yg biasanya mengirim makanan sederhana ke sawah. Pada saat lapar dan haus setelah kerja, tanpa memenuhi standar kebersihan dengan cuci tangan sekedarnya langsung minum dan menyantap kiriman makanan. “Oh…rasanya nikmat luar biasa.” Terbukti, lauk paling enak adalah rasa lapar (dan haus).

Pengalaman kedua, saya pernah berziarah jalan kaki dari Jogja sampai ke Goa Maria di Tawangmangu k.l 120 km (istilahnya peregrinasi) tanpa membawa bekal (anjuran pembimbing rohani) kecuali sebotol air minum. Jika haus dan lapar maka saya harus meminta-minta. Demikianlah, saat bekal air minum telah habis maka saya mampir di pom bensin dan minum air dari kran, “Oh rasanya luar biasa segar dan lega.” Dan pada saat lapar saya minta-minta di sebuah warung dan oleh seorang ibu yg baik hati saya diberi sebungkus nasi plus sayur “pandang-pandangan”/”nget-ngetan” atau sayur yg sudah dihangatkan beberapa kali. Tapi saat kelaparan rasanya amazing…luar biasa nikmat, terpuaskan.
~~~
Dari pengalaman sederhana dan saya renungkan dan kaitkan dengan Sabda Bahagia dari Yesus ini, saya mengalami ternyata “bahagia itu sangatlah sederhana”. Dari pengalaman ini dan diterangi Sabda Bahagia saya dikarunia sudut pandang baru mencecap kehidupan yaitu dengan “bersyukur” serta “optimis” sebab dari situlah saya dituntun melihat kebenaran akan kasih Allah. Allah menyelenggarakan hidupku.
Kesukaran hidup, penderitaan bila disikapi dengan rasa syukur dan pengharapan maka Tuhan akan ubahkan menjadi berkat yang mendewasakan. Sebaliknya jika kesukaran dan penderitaan diterima sebagai musibah maka akan tetap menjadi derita yang meninggalkan luka hati.
~~~
Bagaimana caranya agar kita terus dapat menjaga nyala roh pengertian akan kebenaran kasih Allah?
1. Setia. Setia sebagai murid Kristus walau dihina, dicerca dan dikucilkan. [bdk. Injil hari ini]
2. Selalu mempunyai keyakinan dan pengharapan bahwa Allah bertindak menyelenggarakan kehidupan kita dengan ketersediaan berkat yang kadang tak terduga. Dan yang utama juga adalah pengharapan akan kehidupan mulia sebab Kristus adalah Yang Sulung yang dibangkitkan. Dengan kata lain, “Eling Swarga”- Ingat Surga.
3. Jangan lekat pada dunia dengan segala pernak-perniknya. Andalkanlah Tuhan. Dengan caranya nabi Yeremia mengingatkan,”Terkutuklah yang mengandalkan manusia…dan menjauh dari Allah.”
Kita memang memerlukan sarana dan hal duniawi tapi gunakanlah sewajarnya. Atau menurut ungkapan Jawa “samadya”.
~~
Kecenderungan saat ini, orang mudah sekali kehilangan kebahagiaan. Ada benturan, persoalan, kesulitan, derita sedikit saja sudah merasa menjadi orang yang paling malang dan menderita. Bahkan ada yang stress dan sampai bundir. Tuhan pasti tidak menghendaki demikian. Tuhan menghendaki kebahagiaan kita semua. Maka marilah kita selalu menyegarkan cara pandang mencecap hidup dengan rasa syukur, yakin dan percaya penuh harapan bahwa Tuhan menyelenggarakan hidup kita dengan berbagai berkatNya dengan caraNya.

Shalom – Berkah Dalem
Salam Seroja