Renungan Kecik
Sabtu, 12-02-2022
1 Raj 12:26-32;13:33-34
Raja Yerobeam membuat dua anak lembu emas untuk disembah.
Mrk 8:1-10
Melihat orang banyak yang mengikutinya sebab mereka tidak mempunyai roti, mereka kelaparan, “Hati-Ku tergerak oleh belas kasihan kepada orang banyak ini.
Para murid hanya mempunyai tujuh roti dan beberapa ikan. Yesus bersyukur dan mengucap berkat atasnya lalu menyuruh para murid membagi-bagikannya. Semua orang, kira-kira 4.000, makan sampai kenyang bahkan tersisa tujuh bakul penuh.
~~
Para sahabat, saya mempunyai pengalaman keberuntungan. Sejak SMA sy sdh mengikuti misa pagi juga saat kuliah. Biasanya saya berangkat dari rumah di sekitar Prambanan jam 04.15 bersepeda ke Jogja. Karena tdk mempunyai uang jajan maka ibu biasanya menyiapkan bekal sarapan sederhana. Biasanya saya sarapan bekal saya di dekat sakristi di kapel Bellarminus kampus Sanata Dharma. Rupa-rupanya ada seorang bruder yang memperhatikan kebiasaan saya itu maka suatu saat beliau mengundang saya untuk bergabung sarapan bersama para romo dan bruder di biara Bellarminus bahkan juga kadang makan siang. Itulah keberuntungan saya dari keterbatasan saya beroleh perhatian dan kemurahan hati dari Br. Hardjasudarmo dan para romo di Bellarminus Mrican kala itu. Pengalaman kemurahan hati ini menjadi bagian dan warna tersendiri dalam panggilan saya sebagai imam. Syukur pada Allah.
~~~
Perikop Injil hari ini juga mengisahkan kemurahan dan belaskasih Yesus pada banyak pengikut-Nya yang kelaparan. Yesus memakai bekal makanan yang dipunyai murid-muridNya meski hanya sedikit dan terbatas, hanya tujuh roti dan beberapa ikan. Namun karena Yesus mengucap syukur atasnya dan memberkatinya maka mujizatpun terjadi. Sebanyak kuranglebih 4000 orang bisa makan sampai kenyang bahkan masih tersisa makanan tujuh bakul. Luar biasa.
~~
Para sahabat, kadang di antara kita ada yang menggunakan dalih keterbatasan dan kekurangan untuk menghindarkan diri dari keterlibatan kita di tengah sesama. Misalnya, seseorang berdalih tidak cukup pandai, masih tak berpengalaman maka ia menolak saat diminta menjadi prodiakon. Ada lagi yang mengaku tak ada waktu, maka besok saja kalau sudah pensiun mau aktif di kegiatan gereja. Ada pula yang merasa tak pantas dan layak, dll.
Pertanyaannya, adakah dari kita yang pantas dan layak, adakah kita yang sedemikian pandai sehingga mampu banyak hal, adakah dari kita yg tidak memiliki kesibukan alias nganggur? Tidak.
Kita semua terbatas seperti para murid Yesus kala itu yg hanya berbekal tujuh roti dan beberpa ikan. Tetapi para murid menyerahkannya kepada Yesus sehingga Yesus pun bertindak atas dasar belaskasih sehingga keterbatasan para murid itu nyatanya digunakan Yesus untuk menghadirkan mujizat-Nya.
~~
Saya imam dengan segala keterbatasan, bukan seorang imam yang hebat bahkan sebaliknya rapuh dan lemah tetapi saya mau menyerahkan diri kepada Tuhan.
Adakah keterbatasan dalam diri Anda para sahabatku; baik waktu, tenaga, ketrampilan, pengetahuan, dana dll?
Bersediakah Anda menyerahkannya agar Tuhan campurtangan di dalamnya bahkan menggunakan keterbatasan itu menjadi sarana mujizat-Nya?
~~
Shalom
Berkah Dalem.